Monday, 21 November 2016

scientific explanation why we can feel comfortable after seeing the trees?

trees

Studi di Amerika Serikat bertajuk Environmental Pollution yang dipublikasikan jurnal Elsevier, menguak manfaat kesehatan yang bersumber dari pohon. Ditemukan bahwa setiap pohon dewasa menyerap 17 metrik ton polusi udara. Secara kolektif, pohon mampu mencegah 670.000 kasus masalah pernapasan seperti asma dan 850 kematian manusia. 

Laporan saintifik yang diterbitkan oleh Nature.com pada tahun 2015 tentang kehidupan di sebuah lingkungan di Toronto, menemukan bahwa mereka dengan laporan kesehatan terbaik, tinggal di rumah yang memiliki tak kurang dari 10 pohon. Jika dikonversi dalam materi, persepsi kesehatan tersebut dirasakan seolah seperti mendapat peningkatan pendapatan sebesar Rp 135 juta.

Studi di Rumah Sakit Pennsylvania pada tahun 1970 tentang proses pemulihan pasien menemukan, bahwa mereka yang kamarnya memiliki suguhan pemandangan pepohonan, sembuh lebih cepat daripada pasien yang tinggal di kamar tanpa pemandangan pepohonan.

Di Jepang, teknik penyembuhan seperti ini disebut metode terapi Shinrin Yoku. Yakni satu cara menyerap energi untuk menguatkan berbagai elemen kesehatan dengan menghirup atmosfer alami hutan.

Singkatnya, Shinrin Yoku ini seperti “mandi hutan’. Menurut data, manfaat Shinrin Yoku akan terasa setelah satu bulan. Bagi kamu yang stress dengan tekanan kehidupan, pekerjaan atau asmara yang nyaris membuat putus asa, cobalah mempraktikkan Shinrin Yoku. Usai shalat subuh, keluar rumah menuju taman berjalan menikmati alunan harmoni “the little forest”. 

Di kampung yang cenderung masih terpelihara naturalitasnya, urgensi pohon mungkin tak begitu terasa. Di kota-kota besar, pohon adalah harapan dan bahkan kerap dirindukan.

Kebutuhan akan pohon mengilhami manusia untuk mempertahankan keberadaan ekosistem pepohonan. Dalam skala administratif, pemerintah membuat aturan yang mewajibakn keberadaan pohon sebagai harta bersama. Kita mengenalnya dengan ruang terbuka hijau (RTH). Menurut UU Nomor 26 Tahun 2007, setiap kota mesti memiliki minimal 30% dari total luas wilayah.

Bagi masyarakat urban, suatu saat pohon di pekarangan barang kali akan menjadi aset penting dan kekayaan yang bernilai tinggi.

Dalam skala bisnis, sepengamatan penulis sendiri ada beberapa mal, superblok serta kota mandiri yang betul-betul menonjolkan popohonan. Misalnya di Bintaro, pembangunan kotanya memasukkan unsur pepohonan sebagai bagian penting. Bahkan di beberapa kawasan di Bintaro, suasananya mirip hutan, padahal di kiri kanan ada jalan raya dan perumahan.

Pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta, yang paling tersohor tamannya adalah Central Park Mall yang memang berada di kawasan superblok Podomoro City. Tepatnya Tribeca Park yang selalu jadi opsi arena rekreasi keluarga. Di Bintaro, penulis sendiri sering memanfaatkan taman Bintaro Xchange Mall (BXC) yang cukup rindang untuk lari pagi. Meskipun usia pepohonan di taman yang dilengkapi jogging track tersebut masih belia karena memang BXC baru dibuka tahun 2014.

Konsep kehidupan hijau juga sudah menjadi selling point tersendiri produk residential. Jika search di Google, kita akan dengan sangat mudah menemukan perumahan yang menggunakan kata “Green” Misalnya Green Park, Green Village, Green Residence, Green Lake dan yang semacamnya. 

Developer besar bahkan mengembangkan hunian ala hutan yang mungkin unik jika kita sebut forest residential dengan menawarkan konsep one stop green living seperti Orchard Park Batam.

"Believe it or not only the forest and the trees which could provide our further because of the money and property can not be eaten"

Save our world starts with trees in our environment